Aku sedang duduk di pojok sebuah kedai kopi yang mungkin cukup jauh dari rumah, namun aku menyukai tempatnya. Tidak terlalu ramai, aku cocok sekali dengan jenis keadaan seperti ini. Menyukai suasana yang tidak ramai, tidak terlalu sepi juga. Aku hanya duduk sendiri disini, membuat sebagian orang bertanya "kok sendiri aja?" atau mungkin "sendirian?" dengan ekspresi heran yang sangat jelas tercetak di wajahnya.
Disini aku bisa melihat berbagai aktivitas di hadapanku. Ada yang sedang asyik mengobrol bersama temannya, ada yang fokus dengan laptop di hadapannya, ada pula sepasang kekasih yang terlihat begitu bahagia berbagi tawa.
Aku sering datang ke tempat ini. Sambil menikmati Caramel Frappucino, menu favorite yang tidak pernah berubah. Memandangi rintik hujan yang membasahi kaca luar jendela, membawaku kembali ke kenangan tujuh bulan lalu. Dimana aku berada di tempat yang sama ditemani seseorang yang begitu begitu sulit untuk dijelaskan.
***
Malam hari, sekitar pukul 7 tepat. Aku pergi ke kedai kopi yang cukup terkenal di kota ini. Bersama dengannya, seseorang yang, ah, entahlah, begitu sulit dijelaskan. Sudah cukup lama kami berencana untuk pergi ke kedai kopi ini, namun tidak pernah sempat dan baru saat inilah ada kesempatan datang. Ini juga pertama kalinya kami pergi bersama menikmati waktu untuk bercerita banyak hal. Ah iya, pertama dan terkahir kalinya.
Kami memasuki kedai kopi itu dengan beriringan. Dia mengambil sebuah tempat di dekat jendela. Sebelumnya dia sudah memberitahuku pesanannya, susu regal oreo. Aku segera memesankannya kepada barista disana, kemudian menghampiri dia yang lebih dulu duduk di kursi dekat jendela.
Aku melihat kearahnya lalu tersenyum. Dia pun bertanya "Kenapa?"
"Oh tidak apa-apa" jawabku sedikit canggung. Dia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
Tidak lama kemudian pesanan kami tiba, kami segera menikmatinya. Sesekali sambil mengecek handphone yang entah ada hal istimewa apa sampai di cek terus menerus. Kami memulai percakapan, bercerita mengenai banyak hal. Dia hanya menjadi pendengar yang baik ketika aku sedang seriusnya bercerita. Aku menyukai ketika dia dengan begitu fokus mendengarkanku bercerita, membuatku bebas menceritakan segala hal kepadanya.
"Terlihat unik" ucapku sambil menyeruput kopi.
"Apanya yang terlihat unik?" alisnya naik, bingung dengan ucapanku barusan.
"Matamu, iya, matamu terlihat unik, aku menyukainya" jawabku sambil menatap mata yang selalu ku kagumi itu.
Dia hanya tersenyum mendengar jawabanku itu, entahlah, aku juga tidak tau apa yang sedang dipikirkannya. Kemudian aku mencoba mencabut bulu matanya, dapat! Dia sangat terkejut melihat yang barusan terjadi, awalnya dia terlihat begitu kesal, namun tidak jadi karena aku langsung tertawa saat melihat sehelai bulu matanya menempel di jari telunjukku.
"Sakit!" ucapnya ketus saat melihatku yang belum berhenti tertawa.
"Bodo amat wlee" jawabku sambil menjulurkan lidah, sama sekali tidak merasa bersalah.
Setelah itu dia hanya tersenyum melihat kearahku. Kembali membicarakan banyak hal. Waktu terasa begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, sudah 2 jam berlalu. Kami menyudahi obrolan, mengakhiri pertemuan, memutuskan untuk pulang.
Kami beranjak dari kursi, dia berjalan ke kasir untuk membayar kopi kami tadi. Kami keluar beriringan dari kedai kopi itu. Berjalan menuju ke parkiran. Malam itu kami membawa kendaraan sendiri-sendiri. Saat di perjalanan pulang kami berpisah di persimpangan. Dia menuju pulang kerumahnya begitupula denganku.
***
Lamunanku terbuyar ketika seorang anak kecil mengahmpiriku. Anak itu hanya memegang tanganku kemudian tersenyum. Sepertinya umurnya sekitar 3 tahun, sangat lucu dan imut. Aku membalasnya dengan senyuman, kemudian terdengar suara seorang wanita memanggil nama Viona. Anak kecil itu langsung berlari ke arah sumber suara tersebut, sepertinya itu ibunya.
Cukup lama aku terbawa suasana, mengenang hal yang sudah berlalu dan tidak akan pernah terjadi lagi. Kisah sederhana namun sangat bermakna bagiku. Ya, itu pengalaman pertamaku mengopi ditemani seseorang yang, ah, sudah ku katakan sulit untuk dijelaskan.
Meskipun tidak begitu lama aku mengenalnya, namun aku sudah hafal dengan caranya tersenyum, memberikan saran untukku, caranya berjalan, sikap uniknya. Tapi, aku lupa akan satu hal. Aku lupa, jika hidup ini mengalir, bumi terus mengelilingi matahari, November berganti Desember, dan waktu akan terus tumbuh. Begitu pula dengan aku dan dia. Karena disadari ataupun tidak, kami akan pergi meninggalkan masing masing. Pergi ke cerita yang baru, pergi mencari permainan yang baru dan pergi, mencari tokoh yang baru.
Kini semua sudah berubah, ya, dia semakin terlihat baik baik saja tanpaku, dia sudah menjadi tokoh dalam dunianya yang baru. Aku turut berbahagia melihatnya yang sekarang ini. Memenuhi segala hal yang diinginkannya, yang pernah dia ceritakan kepadaku. Semoga kebahagiaan selalu menyertainya.
Aku akan terus berjalan, berpetualang mencari pengalaman baru. Mencari jati diri, menikmati perjalanan menuju kesuksesan, menjelajahi isi dunia. Untuk saat ini, aku hanya akan seperti itu saja.
Aku hanya hari kemarin untuknya, bukan untuk menjadi hari esok atau lusa ataupun seribu tahun lagi, ya, memang begitu seharusnya. Akan ku jadikan dia sebagai tokoh yang akan selalu ku kagumi. Jangan pernah tanya apa alasanku, karena aku memang aneh.
Komentar
Posting Komentar