Kejam, dunia ini begitu kejam. Aku tidak pernah tau ini salah siapa. Bahkan, tiap rintik membasahi tanah, tiap detik berganti waktunya, kekejaman ini tetap terasa begitu nyata.
Aku tidak mengerti, apakah aku yang tidak menemukan celah untuk menikmati bahagia? Atau memang kesadisan dan kekejaman bagian dari jalannya? Jika pilihan kedua yang menguasainya, lantas kata tanya yang ku berikan adalah siapa?
Aku yang diberikan jalan hidup kekejaman dan kesadisan. Siapa aku sebenarnya? Aku rasa, aku tidak cukup kuat menghadapinya. Namun, aku percaya bahwa aku selalu berhasil melewatinya. Ah, meskipun berhasil juga, kekejaman dan kesadisan itu akan tetap singgah dengan peraturan barunya.
Setiap aku mengeluh lelah, dunia semakin meronta-ronta. Parah, tidak pernah sedikitpun diberi kesempatan untuk menyerah. Meskipun aku tidak pernah tepikir untuk menyerah, namun tetap saja tidak dapat menutupi rasa lelah.
Saat aku memejamkan mata, berbagai rasa bahagia terasa begitu abadi. Sampai aku lupa dengan dunia nyata. Namun, apakah kalian pernah merasakan hal yang sama? Hal yang menunjukkan bahwa meskipun nyata atau tidak, ternyata keduanya sama kejamnya. Mungkinkah aku terlalu lama mengabaikan dunia nyata? Atau aku terlalu berharap rasa semu itu menjadi nyata?
Kenyataan begitu kejam, meskipun aku telah mengalah terhadapnya, semesta tidak pernah mengizinkannya. Jika aku menentangnya, tubuhku menjadi sasarannya. Aku sakit, seluruh bagian diriku mendapat hukuman. Entah itu raga ataupun jiwa. Namun saat aku menjalaninya, seperti labirin yang dipenuhi asa.
Aku lelah, benar-benar lelah. Meskipun kesadisan dan kekejaman sudah menjadi jalannya, aku masih sulit untuk menerimanya, apalagi terbiasa berdampingan dengannya. Apakah bisa terselipkan bahagia didalamnya? . Hahaha, pertanyaan bodoh! Kau sudah tau jelas jawabannya.
Namun aku sudah lelah, bisakah sebentar saja memberikan kebahagiaan yang nyata?
Komentar
Posting Komentar