Mencoba Mengalihkan


Beberapa saat yang lalu, aku baru saja meninggalkan rumah dengan sepeda motor kesayanganku. Pergi, tidak jauh. Hanya ke sebuah kedai kopi yang biasa kudatangi saat perasaanku terasa campur aduk, saat perasaanku memilih untuk melarikan diri dari kebisingan pikiran, saat perasaanku menginginkan ketenangan yang 'mungkin' bisa menyembuhkan perihnya goresan kenangan di lubuk hati yang terdalam.

Kopi Batik, ya, aku mengubah pesananku dari yang biasanya Caramel Frappuccino menjadi kopi batik. Aku membawa dua buah buku motivasi yang akan kubaca saat menghabiskan waktu disana. Baru saja sampai disana, aku membuka salah satu buku karya Nicholas Bate yang berjudul "You, Only Better". Awalnya sulit sekali untuk fokus dalam menikmati sajian buku tersebut, tetapi lama kelamaan dunia yang ada dalam buku tersebut menarikku masuk kesana untuk menikmati tulisan tulisan itu.

Tidak terasa dua jam berlalu, menghabiskan dua cangkir kopi yang menjadi saksi bisu dalam keseriusanku menjelajahi dunia buku. Aku rasa sudah waktunya untuk pulang. Perasaan yang semula begitu berat dirasa kini sudah jauh lebih baik. Kaki kecilku melangkah keluar kedai kopi untuk menuju ke parkiran motor. 

Sayangnya, saat di perjalanan pulang, aku melihat sebuah momen yang membuat kegelisahan hatiku kembali lagi. Sial, sia-sia saja dua jam pengalihan itu. Berat, bahkan lebih berat dari sebelumnya. Yang seharusnya tinggal membelokkan motor ke jalan menuju rumahku justru menambah kecepatan meninggalkan pertigaan jalan itu begitu saja. 

Bahkan, aku tidak mengerti kemana pikiran ini mengintruksikan jalanan yang harus dilalui. Hampir tiga kali melewati pertigaan rumahku, aku memutuskan untuk pulang saja dengan harapan mungkin saja kegelisahan hati ini menjadi reda. Akan tetapi semesta tak berpihak kepadaku, justru saat masuk ke rumah perasaan dan pikiranku menjadi sangat kacau, bahkan aku sendiripun sulit untuk memahami maksudnya. 

Komentar