Lembaran dari Semesta


"Nenek, ayo ke kebun sebelah ambil jengkol." 

"Tunggu sebentar nenek mau ambil pisau di dapur." 

Cuaca hari ini sangat cerah, awan-awan putih menyebar dibirunya lautan langit. Tidak heran kalau panas matahari begitu terik, karena ini jam 1 siang. Waktu yang biasa kami gunakan untuk mengambil jengkol di kebun sebelah rumah nenek. 

"Nenek hati-hati turun tangganya," 

"Sudah, jangan tunda semangat kamu itu dengan repot-repot memikirkan nenek. Jangan remehkan nenek tua ini, meskipun rambut sudah menunjukkan waktu senjanya, usia dapat dikatakan lewat dari muda, dan kulit sudah mulai lelah mengencang, tapi tenaga dan semangat tetap muda." 

Aku hanya tertawa melihat nenek yang tidak kalah semangat menuruni anak tangga dan berjalan ke arah gundukan pasir. 

"Nek, kenapa jengkol-jengkol ini ditanam di dalam pasir?" 

"Ini bukan ditanam," 

"Jadi diapain?" 

"Disimpan," 

"Tapi kenapa disimpan di pasir, kan aneh sekali. Nek, lihat! Aku dapat besar sekali. Tapi sangat susah ditarik." 

Aku terjatuh kebelakang saat menarik jengkol yang tersangkut pada akar yang bagitu kuat. Nenek hanya tertawa menlihatku meringis penuh pasir. 

》》 

"Nenek aku datang dengan seragam polisi ini, ayo sini lihat." 

Nenek tersenyum mendekat ke arah tempat dudukku saat ini. 

"Wah, keren sekali. Nenek sangat bangga melihatmu seperti ini. Berhubung kemarin Nenek gajian, maka dari itu Nenek mau kasih Ulwa uang." 

Aku berteriak senang menerima uang dari Nenek. 

》》 

"Nek, ayo kita ambil kasur. Bukannya malam ini kita harus tidur bersama-sama di ruang tengah, kan?" 

"Iya, wa. Kamu bersemangat sekali hari ini. Ayo bantu Nenek mengambil kasurnya di kamar Nenek." 

Aku dan Nenek menngambil beberapa kasur di kamar untuk diletakkan di ruang tengah, hari ini seluruh keluarga pulang dan akan menginap bersama, serta tidur dalam ruangan yang sama bersama Nenek. Momen yang begitu langkah, karena yang aku tahu dengan jelas seluruh Uak, Oom, Paman, Bibi, Tante, Sepupu, serta seluruh anak-anak Nenek tinggal di berbagai daerah yang tentu saja sangat jauh jarak antar rumahnya. 

Mau diikatakan bagaimanapun momen ini harus dinikmati dan dijalani dengan sepenuh hati. 

Bercanda bersama, tertawa bahagia, bercengkerama dengan seru, campur aduk dengan haru, segala kondisi dirasakan dalam satu waktu. Hebat sekali, bukan? Tentu saja, bahkan sampai satu per satu orang tumbang karena mata sudah tidak mendukung lagi untuk melanjutkannya. 

"Nek, aku mau pipis. Ayo temani aku ke wc belakang," 

Dengan mata yang masih tertutup dan sesekali mengerjap menyeseuaikan dengan cahaya, Nenek menuntunku berjalan menuju wc belakang rumah. Kesadaran belum sepenuhnya pulih, Nenek dan aku tetap berusaha menyesuaikan peralihan antara dunia mimpi dan dunia nyata. 

》》


"Ulwa sini ikut bibi, kita ambil jambu di depan rumah," 

"Tidak mau." 

"Ayo sini tidak apa-apa, Ulwa anak yang pinter." 

Bibi langsung menggendongku dan membawaku ke pohon jambu di depan rumah Nenek. Entah mengapa aku tidak menyukai bibi, jadi aku selalu memberontak saat diajaknya bermain. 

Jambu-jambu segar itu sangat menggiurkan, apalagi saat ini jambu-jambu itu tepat di depan wajahku. Jujur saja aku menginginkannya, tapi aku tidak suka digendong bibi. Segera mungkin aku menggapai jambu di depan wajahku dan setelah itu memberontak dari gendongan bibi. Bibi terpaksa menurunkanku yang begitu agresif memberontak. 

Kabur adalah pilihan terbaik. 

"Nenek, aku tidak suka sama bibi Claire," 

"Eh, kenapa kamu tidak suka? Bibi Claire kan sangat baik sama kamu," 

"Pokoknya aku tidak suka, aku juga tidak mau main sama bibi." 

"Saat ini kamu memang masih kecil, belum mengerti banyak hal. Tapi, Nenek akan mengingatkan sesuatu, dan mungkin ini akan sangat berguna saat kamu menjalani hidup dikedewasaan nanti," 

"Sesuatu apa, Nek?" 

"Ulwa, manusia itu sejatinya dilanda kebimbangan. Bimbang dalam hal orang yang kita sukai dan tidak disukai. Karena disadari ataupun tidak, saat mereka mengatakan bahwa mereka tidak menyukainya disisi lain ada hati yang mengatakan bahwa dia layak untuk disukai, hati yang sebenarnya tahu yang sebenar-benarnya dipikirkan oleh pikirannya." 

"Aku tidak tahu Nenek ngomong apa, tapi yang aku tahu jambu ini enak sekali." 

Nenek hanya tersenyum sambil berkata "Kelak kamu akan mengerti." 

》》 

"Nenek, ayo temani aku main di depan rumah." 

"Ulwa mau main apa?" 

"Aku mau pura-pura ngerayain ulang tahun Nenek, ayo Nenek pasti tidak sabar, Nenek mau,kan?" 

"Dengan senang hati." 

Aku segera menarik tangan Nenek dan berlari menuju ke tangga depan rumah. 

Menyiapkan pesta kecil di tangga depan rumah, mendekorasi dengan bunga terompet yang tertanam indah di dekat tangga. 

Menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Nenek dan memberi kado sebuah bungkusan dari daun yang aku tidak tahu apa namanya. 

"Buka kadonya, Nek." 

"Wah, ini bagus sekali." 

》》 

"Kei, sini ikut aku!" 

"Mau kemana?" 

"Memanjat pohon jambu di sebelah rumah Nenek," 

"Ayo, tunggu apalagi!" 

Aku dan Keisya berjalan menuju ke pohon jambu legend, pohon yang sering kunaiki. Entahlah, aku memang sangat suka bersantai diatasnya. 

Dengan begitu lincah kami memanjat pohon jambu air itu hingga ke dahan pohon yang kami sebut bestcamp. 

"Ulwa, Keisya cepat turun, nanti kalian jatuh!" 

Teriakan yang sangat familiar, teriakan yang selalu terdengar saat kami memnjat pohon jambu, teriakan yang tidak akan berhenti sebelum kami turun, siapa lagi kalau bukan Nenek. Setelah mendengar itu kami terpaksa turun dengan membawa beberapa jambu. 

》》 

Suasana begitu ramai ketika mobil papi berhasil memasuki halaman luas rumah Nenek. Banyak orang berdatangan dengan membawa sebuah baskom kecil ditutupi dengan kain, menggunakan peci diatas kepala, menundukkan kepala larut dalam duka. 

Kami segera naik ke lantai dua rumah Nenek. Suasana semakin mencekam saat mendengar tangis disetiap sudut ruangan. Mami memegang tanganku dengan sangat kuat. Aku menatap wajah mami yang sudah sembab karena menangis, tapi air mata itu semakin deras saat kami sudah dekat dengan seseorang yang terbaring dan tertutup kain. 

Orang-orang memgang buku kecil sambil membacakannya. Air mata mengalir disetiap pipi orang yang berada di ruangan ini. Aku mengerti, aku sangat mengerti apa yang terjadi. Tapi aku tidak sanggup untuk mengatakannya, mengatakan akhir dari semuanya. Sungguh, aku tidak pernah menyangka ini akan terjadi. Oh tidak, aku tidak sanggup!

》》

"Dimana letak kunci pintu rumah Nenek?" 

Mami menyerahkan kuncinya kepadaku. Saat ini aku bersama Keisya sengaja datang ke desa untuk mengunjungi rumah Nenek, rindu, bahkan sangat sangat sangat rindu, rindu segala hal yang dilakukan ketika Nenek masih dengan semangat menemani cucu-cucunya bermain. 

Aku membuka gembok yang tergantung di pintu, pintu terbuka. Tidak terlalu banyak yang berubah di dalam, meskipun beberapa waktu lalu sempat direnovasi. Memotret setiap sudut ruangan, mengabadikannya dalam sebuah gambar. 

Saat melihat suasana di dalam rumah, aku dan Keisya langsung terbawa ke memori yang jauh di belakang, memori yang mencatat setiap momen di rumah ini. Saling menceritakan kejadian-kejadian di masa lalu yang berhubungan dengan setiap sudut rungan rumah Nenek. Itulah yang disebut beberapa lembaran kenangan dari semesta. Ahh, semua terasa seperti mimpi yang nyata.

Komentar