"Ghena?" sapanya sembari tersenyum manis ke arahku.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Eh Adnan" aku yang terkejut melihatnya menarik kursi kosong di hadapanku dan kemudian duduk manis disana.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Boleh gue duduk disini?" tanyanya masih tersenyum menatapku.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Bukannya lo udah duduk. Namun sayangnya itu hanya umpatku dalam hati.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Iya boleh kok."
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Apa kabar na?"
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Baik, lo sendiri?" tanyaku balik.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Tak ada yang berubah darinya. Masih menyenangkan dan menyebalkan dalam satu waktu seperti dulu. Hanya saja rambutnya sudah mulai panjang, entah mengapa dimata ini ia semakin terlihat tampan. Ah sial, mungkin aku terlalu merindukannya sampai aku lupa menanyakan kemana saja selama 6 tahun ini.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Malam itu, tepatnya 12 Januari 2020 hari dimana aku dipertemukan kembali dengan sosok yang selama 6 tahun ini menghilang tanpa kabar. Benar, aku masih sangat mencintainya. Sudah kucoba untuk menghapus namanya yang terukir indah di hati. Namun sayang, ukiran itu terlalu indah untuk dihapus begitu saja.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Maaf na, gue kangen banget sama lo."
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
... Deg.
Suasana kota Jakarta di malam hari terlihat riuh dan sangat padat. Aku duduk termangu disebuah kedai kopi menatap tak percaya sosok yang selama ini namanya terukir indah disebuah tempat yang disebut 'hati'.
Komentar
Posting Komentar