Meja itu tampak kosong, ruang TV yang begitu sunyi, setiap ruangan terlihat gelap, tak ada suara apapun, kini seisi rumah itu tampak tak berarti, begitu sepi, adakah yang menghuni? Ada. Tentu saja ada. Seorang gadis kecil, yang kini sudah beranjak dewasa. Sudah 17 tahun, ya benar, usianya sudah memasuki tahun ke-17.
Sepi, seorang diri, gadis itu merasa kesepian. Tidak ada yang menemani. Padahal, jika dihitung, ia memiliki banyak saudara, terdiri dari Lima bersaudara. Jika kalian bertanya dimana saja yang lainnya, maka jawabannya "sudah siklusnya". Siklus beranjak dewasa, bertemu belahan jiwa, memulai rumah tangga. Jauh dari keluarga, itu pilihan mereka. Melangsungkan kehidupan dengan caranya.
Orang tua gadis itu dimana? Ada. Mereka bekerja, di sebuah desa. Desa yang merupakan rumah, yang dulunya selalu ramai saat Nenek dan Kakek masih ada. Namun, kini rumah itu sama seperti rumah yang ditinggali gadis kecil itu, sepi. Sudah sepatutnya kan, mereka melanjutkan usaha orang tuanya, yang menjadi kewajiban sebagai seorang anak.
Gadis itu mengerti, akan pekerjaan orang tuanya, serta alasan dibaliknya. Dia hanya berdoa, akan kesehatan dan keselamatan orang tuanya, bekerja demi dirinya juga. Tidak lupa juga mendoakan saudaranya yang kini sudah jauh dari rumah.
Memang tidak terlalu dekat dengan saudaranya, gadis itu juga menyadari bahwa dulu ia jarang sekali tinggal dirumah orang tuanya, wajar saja jika ia tidak begitu dekat. Dulu ia tinggal di rumah saudara ibunya, masih di kota yang sama, juga daerah yang sama. Hanya kelang beberapa rumah saja. Namun, gadis itu jarang pulang ke rumah orang tuanya, bahkan bisa dihitung jari.
Orang tuanya sibuk bekerja, demi menghidupi keluarga, gadis itu tinggal bersama saudara ibunya yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Sejak umur 6 bulan, ya, benar. Ketika ia memasuki usia 14 tahun, gadis itu kembali ke rumah orang tuanya dan tinggal bersama mereka. Namun, sangat disayangkan, hanya beberapa kali saja ia merasakan berkumpul bersama keluarganya yang kini sudah memiliki kehidupannya. Apa boleh buat, mereka sudah dewasa, sudah waktunya keluar untuk menjelajah dunia.
Berbuka puasa bersama, penuh canda dan tawa di meja makan yang kini terlihat kosong. Bertengkar antara adik-kakak yang memang sering terjadi, berebut remot TV, mengganggu saat mengerjakan PR, iseng membangunkan tidur, serta kekonyolan-kekonyolan lainnya.
Gadis itu hanya menatap meja makan yang dulunya selalu dipenuhi canda dan tawa. Mengenang kenangan kecil yang begitu manis dirasakan. Dengan senyuman yang terlihat hampa namun begitu tulus, hatinya berucap "ternyata rindu juga".
Komentar
Posting Komentar