What Happened to Me?


*Baca sampai selesai, klo ga tertarik ga usah baca aja.

Aku 'pernah' berada disituasi yg baru ku sadari bahwa itu hal yang paling 'gila'.
Akan aku ceritakan.
Waktu itu aku menjalin hubungan dengan seseorang yang mungkin sejak lama ku kagumi. Kurang lebih 2 tahun aku memantau nya. Memiliki rasa keinginan yg tinggi agar dia bisa menjadi milikku.

Sampai pada saatnya aku mendapatkan kesempatan untuk bersamanya. Kalian tahu apa yang aku lakukan? Aku bersikap posesif. Melarang segala hal yg dia lakukan, menyadap aplikasi WhatsAppnya, selalu meminta orang untuk memantau segala kegiatannya, dan sebagainya. Awalnya dia menerima, selalu menuruti kemauanku tak pernah protes sekalipun.

Sampai pada saat dimana dia lelah, menghilang beberapa waktu. Aku tidak hanya diam, ku hubungi semua hal yang dapat tersambung dengannya namun hasilnya nihill. Ketika mendekati hari raya Idul Fitri dia kembali, dia mengatakan bahwa pergi ke rumah keluarganya di sebuah desa. Aku percaya. Namun ternyata dia membohongiku, dia tidak pergi, dia sengaja menghilang, menghindar dariku. Aku tidak tahu apa yang telah ku lakukan sampai dia tega membohongiku.

Beberapa hari setelah lebaran, hubungan kami berubah, seperti orang asing. Aku merasa heran, pikiran buruk berkelana di otak. Saat teman-temanku mengajak ke bioskop aku bertemu dengannya. Dia menghindariku. Singkat cerita ketika pulang aku sudah lelah, tidak ku pedulikan lagi sikapnya. Saat malam, salah satu teman sd nya mengatakan hal yg benar-benar tak terduga. Dia mencoba selingkuh sejak beberapa minggu yg lalu, aku sadar akan sikapnya akhir-akhir ini. Setelah mendapat kabar itu aku segera mengirimkan pesan kepadanya. Aku mencoba memancingnya agar berkata jujur namun tidak bisa, dia tidak pernah berkata jujur. Masih bertahan dengan alasan-alasan yang tak masuk akal. Jujur saja aku marah, tp tetap bersikap tenang. Sampai akhirnya aku yg mengakhiri hubungan itu mengatakan segala hal yang bisa membuatnya tenang, tidak perlu mengkhawatirkan aku.

Bagaimana denganku? Pasti kalian pikir aku kecewa, marah, nangis seharian. Tentu tidak! Aku terlihat biasa saja, tidak ada rasa sakit, rasa kehilangan, rasa benci, dan berbagai rasa lainnya. Perasaanku saat itu? Entahlah aku juga tidak mengerti, aku merasa biasa saja.

Beberapa bulan kemudian aku diajak berkumpul bersama teman-teman SMP. Salah satu teman dekatnya bilang bahwa dia tidak suka di kekang, ingin bebas namun aku tidak memberinya kebebasan. Sejak saat itu aku mengerti. Sampai pada saat aku tidak sengaja bertemu dengannya lagi. Aku pergi bersama beberapa temanku SMP menonton sebuah pertandingan basket disebuah daerah. Saat itulah aku kembali bertemu dengannya. Setelah pulang, dia mencoba menghubungiku lagi dengan mengirim beberapa pesan. Sejak saat itu kami kembali dekat. Mengenai selingkuhannya? Yang aku dengar dia tidak pernah memiliki hubungan dengan selingkuhannya itu, hanya sekedar dekat.

Hampir sebulan dekat, kami memutuskan untuk memperbaiki hubungan yang pernah ada dulu. Aku tidak pernah lagi bersikap posesif. Beberapa bulan lancar saja, sampai akhirnya aku kembali mengetahui fakta bahwa dia kembali mencoba selingkuh. Lebih parahnya lagi di depan mata kepalaku sendiri. Parah? *Pgn ngmg bangsat dah gue

Setelah tahu kejadian itu, aku mengakhiri hubungan itu (lagi). Perasaanku saat itu? Bisa dibilang sudah menguap entah kemana, tak pernah tertarik untuk mencari taunya. Tidak ada tangis, kecewa, marah, ataupun sejenisnya. Ku biarkan saja berlalu.

Beberapa bulan kemudian aku dekat dengan seseorang. *woi bingung gue nyeritainnya, dahlah jan marah ye. Teman SMA sekaligus teman sekelas. Awalnya dia pernah mencoba mendekatiku sebelum menjalin hubungan kedua kalinya dengan (ya taulah, yg tadi noh) namun aku tidak memperhatikan maksudnya. Saat tahu sekelas, aku mencoba membuka hati untuknya namun sangat sulit. Sudah hampir empat bulan kami dekat, rasa itu masih enggan untuk datang. Sampai akhirnya dia pergi meninggalkanku. Aku merasa itu yang terbaik, karena sejak awal aku memang tidak memiliki rasa. Aku takut jika menyakitinya.

Tiga bulan berlalu, aku merasa ada yang berbeda. Setiap melihatnya muncul rasa menyesal. Aku mencoba memperbaiki, ternyata dia dengan berbaik hati membuka jalan untuk masuk ke kehidupannya lagi. Aku merasa senang, mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah ku perbuat, aku takut jika dia memilih untuk pergi lagi.

Hampir tiga bulan hubungan itu berjalan, banyak masalah berdatangan. Aku sering menangis, mengalah, meminta maaf. Segala hal ku lakukan agar dia tidak pergi meninggalkanku lagi. Beberapa kali bahkan sering dia mencoba pergi, aku tetap menahannya. Hal kecil sering menjadi masalah besar. Aku selalu minta maaf, hari-hariku dipenuhi tangis. Hanya di sekolah saja mungkin kami bisa tertawa lepas.

Aku tidak pernah menyalahkannya, setiap hal yang telah terjadi aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Dia orangnya cemburuan, hal itu terkadang sering menjadi permasalahannya. Aku selalu bebas berteman. Aku mencoba membatasi diri untuk tidak terlalu bebas berteman, mengobrol seperlunya saja dengan teman cowok.


Tujuh bulan berlalu, masih saja sama bahkan aku terbiasa. Saat itu aku sudah mulai lelah, namun tidak menyerah. Dia? Sudah mendiamkanku, entah apa yang telah terjadi. Setiap hari aku mencoba berbicara dengannya namun dia enggan untuk menoleh. Beberapa hari berlalu, aku masih tidak menyerah. Meskipun teman-temanku sudah memarahiku sejak dulu-dulu untuk segera mengakhiri hubungan ini, namun masih saja berat. Aku mendengar kabar bahwa dia telah menganggap hubungan ini berakhir. Tanpa membicarakannya denganku? Ya benar, dia memang seperti itu.

Terakhir aku menangis, saat aku mencoba terakhir kalinya untuk membicarakan masalah itu secara langsung namun dia tetap menolak. Aku menangis, di depan proses pemakaman anak kucing di sekolahku, ya biarlah, biar aku dikira nangis oleh kucing. Hampir sebulan aku mencoba mengajaknya untuk membicarakan segala hal yang menjadi akar permasalahannya, selama itu juga aku selalu di tolaknya, selalu mengatakan "nanti nanti nanti" sampai aku selalu emosi jika harus berbicara baik-baik dengannya.

Dua bulan berlalu lagi, dia berulang tahun. Selang beberapa hari aku memberikannya kado di sekolah, akan tetapi dia seolah enggan menerimanya. Atas segala hal yang berlalu, semua perlakuannya baru kali ini aku merasa kecewa (maap yew) *ngapain minta maaf sih, gausah naif lah del. Dih marahin diri sendiri.
Dua hari dari pemberian kado itu, aku benar-benar lelah. Aku mencoba berbicara baik-baik untuk yang ke sekian ratus kalinya namun dia tetap tidak menyuarakan hatinya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Dia menerimanya, entahlah aku tidak tahu apa yang dirasakannya saat itu. Perasaanku? Biasa saja, namun terselip kata 'lega'.

Sekarang apa faedahnya aku ceritain ini semua? :). 
Aku menceritakan ini untuk berbagi hikmah dan pelajaran yang bisa aku rasakan dari pengalaman kedua hal itu. Mungkin kalian juga akan mengerti mengapa aku menuliskan cerita ini.

Dalam kedua cerita itu dapat mengangkat sebuah topik pembicaraan yang akan saya bagikan yaitu "TOXIC RELATIONSHIPS".

Mengapa bisa dikatakan begitu?

Lihat dari cerita pertama. Aku bersikap posesif terhadapnya. Alasannya? Karena pada saat itu aku benar-benar takut kehilangannya, makhluk hidup yang sudah hampir 3 tahun menetap di hati. ITU SEMUA BUKAN LAGI CINTA MELAINKAN OBSESI. Bersikap posesif tanpa tahu apa yang dia rasakan itulah obsesi. Awalnya memang rasa cinta itu tulus namun lama kelamaan berubah menjadi obsesi. Salah? Sangat salah untuk apa ditanyakan lagi. Dia memilih untuk selingkuh karena tuntutan-tuntutan yang diberikan bertubi-tubi kepadanya. Akan tetapi bagaimanapun yang terjadi selingkuh itu tetap tidak bisa dibenarkan, setidaknya jika memang sudah lelah katakan saja, beritahu apa yang dirasakan baru membuat lembaran baru.

Setelah itu kembali bersama lagi, disitu aku berubah tidak pernah bersikap berlebihan lagi, bisa ku tunjukkan jika kalian tidak percaya, namun dia tetap mencoba selingkuh. Sepertinya yang ini memang kebangetan *gatau dah gue, emg gitu kali ya orangnya ga ngerti lagi.

Untuk cerita yang kedua, ini yang lebih parah. Aku selalu menahan jika dia ingin pergi, selalu menyalahkan diri sendiri setiap masalah datang, menganggap semua yang telah terjadi 'baik-baik saja'. INI LEBIH TEPAT DIKATAKAN OBSESI. Sama halnya yang tadi, awalnya memang cinta namun cinta itu berevolusi menjadi obsesi.

Dari kedua hal itu dapat disimpulkan bahwa itu semua termasuk TOXIC RELATIONSHIPS. Kedua hubungan itu tidak lagi sehat, lebih banyak hal yang menyakitkan daripada membahagiakan. Hanya 2 hal yang dapat diambil dari kata obsesi, menyakiti atau disakiti. Segala hal yang didasari oleh obsesi maka akan membuat kita sadar dan menyesal. Percayalah, jika melakukan kesalahan dgn bersikap posesif itu hanya akan melukai orang tersebut, tanpa membuat diri sendiri merasa bersalah. Namun hanya sadar akan kesalahan. Apalagi jika sampai menyakiti diri sendiri agar orang tersebut tidak meninggalkan pergi.

Jika seseorang memilih untuk pergi, jangan pernah memintanya untuk menetap, mengatakan kepadanya "jangan pergi" percayalah itu adalah obsesi, bukan lagi cinta. Cinta yang tulus itu ikhlas menerima. Melepaskan dia yang mungkin tidak bahagia bersama kita, memperbaiki kesalahan yang dipebuat. Cinta yang tulus akan berusaha untuk membuat nyaman agar dia menetap, namun obsesi hanya memikirkan 'agar dia selalu bersamaku'.

Menyakiti membuat bekas di hatinya namun yang disakiti akan lebih dari kata lebih. Jika kalian merasa bahwa selama ini tidak pernah bahagia maka akhiri hubungan tidak sehat itu, karena hanya akan membahayakan mental. Ketika hal itu diakhiri kalian akan merasakan bebas dan lega.

Jangan sia-siakan hidup untuk selalu terjebak dalam toxic relationships. Ini hanya sekedar pengalamanku. Jangan menyalahkan salah satu pihak saja, karena cerita ini dalam sudut pandangku. Aku tidak ingin kalian terjebak dalam toxic relationships. Apabila sudah menjalaninya lebih baik diakhiri dan jadikan pelajaran dalam menjalani hubungan kedepannya.

Jika sudah merasa tersakiti, katakan kepadanya apa yang dirasakan. Karena, seseorang tidak akan pernah tahu dan SADAR AKAN KESALAHANNYA apabila tidak pernah diberitahu. Biarkan dia belajar dari kesalahnnya agar suatu saat nanti dia bisa lebih mengerti dan menghargai perasaan seseorang.

Belajarlah mencintai seseorang dengan tulus tanpa 'berharap'. Jangan memaksakan untuk mendapatkannya ataupun menahannya agar tidak pergi. Jangan biarkan rasa 'cinta' menjadi 'obsesi'.

Apa rencanaku kedepannya? Tidak akan ku jawab. Karena, kenapa harus?
Tidak tidak, akan ku ceritakan jika saatnya tiba.

Sumpah dah, lagi ga bisa melow. Gatel jari gue pengen ngetik kata-kata bacot. Maap maap ya yg masuk cerita, ga pernah terpikir untuk ngelakuin hal buruk atau apalah itu. Jangan ngerasa gimana-gimana ye bisa kan? Damai aja deh, damaii. Jadiin pelajaran aja woi dah, gatau daritadi pen ngegas padahal bukan arena balap. Dahlah intinya jangan sampe kejebak di toxic relationships. Come on dude, merusak tau ga. Bahagia engga susah iya, tau gue bilangin org yg jatuh cinta tuh susah tp maap maap ni yee dah diingetin dari awal. Gue juga dulu dibilangin masih aja goblog, sudahnya nyesel? Ga tau ga mau nyebutnya. Ga lah meskipun iya juga banyak pelajaran yg di dapet ya tapi jgn sampe nyesel dulu baru sadar, manusia emg gitu ya lucu banget kek boneka Annabelle. Tp disini gue kasih tau biar kalian tau gitu aja dah ribet amat sih. Pusing gue, capek kan otaknya.

Dah Assalamu'alaikum. 

Komentar